Sanggul Jogja / Yogya


















TATA RIAS PENGANTIN YOGYAKARTA SEBAGAI BAGIAN BUDAYA
Tata rias pengantin Yogyakarta memiliki dimensi yang luas dan berkaitan erat dengan sistem kepercayaan. Selain itu tata rias pengantin memiliki nilai dane stetika tinggi yang beraneka ragam sesuai dengan sistem nilai yang dimiliki masyarakat Indonesia, khususnya budaya Jawa. Tata rias pengantin juga merupakan perwujudan atau ekspresi berbagai bentuk pengungkapan sistem
nilai yang berlaku dalam masyarakat. Perwujudan tersebut dibentuk oleh perangai, keyakinan dan kaidah nilai-nilai budaya yang dipengaruhi oleh kondisi dan situasi setempat. 
Menurut adat yang berlaku dalam masyarakat, hidup setiap individu  mengalami tingkatan-tingkatan tertentu. Kalangan ahli kebudayaan menyebutnya dengan istilah daur hidup, lingkaran hidup, siklus hidup atau life cycle.
 Daur hidup yang meliputi masa bayi, masa kanak-kanak, masa dewasa, masa kawin, masa tua, dan akhirnya meninggal dunia. Perkawinan merupakan proses kehidupan manusia yang paling penting
dan menentukan laju kehidupan selanjutnya. Perkawinan secara adat mengarah pada tujuan monogamy yang menjadikan kedua manusia mengawali pengintegrasian dalam lingkungan tata alam sakral dan sosial. Melalui pernikahan, kedua manusia akan hidup dalam lingkungan berdasarkan atas
norma, kaidah-kaidah dan adat kebiasaan masyarakat. Dalam perkawinan, terdapat unsur-unsur budaya yang kental. Setiap bagian dalam perkawinan sarat dengan doa dan harapan seperti terdapat dalam tata rias pengantin dan upacaraadat yang menyertainya. Hal ini jelas tergambar karena pada dasarnya perkawinan adalah kehidupan untuk memulai sebuah komunitas masyarakat
yang baru. Dengan doa dan harapan, kedua pengantin diharapkan dapat menjalani kehidupan dan menghasilkan keturunan yang baik. Tata rias pengantin dilatarbelakangi falsafah hidup, merupakan karya tangan dan ekspresi rohani nenek moyang yang saling berkaitan membentuk sebuah rangkaian lambang yang harmonis dan indah. Karya tersebut merupakan pengetahuan berharga. Dahulu karya-karya tersebut tidak disampaikan secara tertulis tetapi hanya tersimpan dalam ingatan, untuk kemudian di wariskan secara turun lisan kepada keturunannya. 
Tata rias pengantin merupakan salah
satu cabang seni yaitu seni merias pengantin atau lazim disebut seni paes (Marmien Sarjono, 2008:5). Seorang perias pengantin akan menggoreskan lambang-lambang kehidupan dengan iringan doa yang sarat dengan makna. Setiap doa ditujukan untuk kehidupan kedua pengantin agar dapat menjalani
kehidupan dengan kearfifan dan kebajikan.


LAMBANG DAN MAKNA TATA RIAS WAJAH PENGANTIN DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER INDIVIDU
Tata rias pengantin merupakan hal penting dalam pelaksanaan upacara perkawinan adat, karena secara keseluruhan tata rias merupakan ekspresi pesanpesan yang disampaikan kedua mempelai sebagai bagian dari masyarakat. 

Salah satu corak pengantin gaya Yogyakarta adalah corak Paes Ageng. 
Corak ini memiliki banyak keistimewaan yaitu busana pengantin kebesaran berbentuk
dodot/kampuh, paes (cengkorongan) yang dihias dengan prada dan kinjengan, rajah pada mata yang memberi kesan tatapan mata yang lembut dan syahdu, dan sanggul bokor mengkurep yang dibungkus rajut pandan dan dihias dengan perhiasan keemasan.

Corak Paes Ageng atau corak Basahan dahulu dikenakan untuk acara perjamuan pengantin saat upacara panggih di Kraton. Pada masa sekarang corak Paes Ageng digunakan pada upacara panggih terutama oleh masyarakat yang  memiliki status sosial terpandang dengan pertimbangan menyesuaikan lingkungan sosial dan kondisi fisik pengantin.
Tata rias wajah pengantin corak Paes Ageng terbagi menjadi dua bagian yaitu rias wajah dan cengkorongan. Tata rias wajah pengantin corak Paes Ageng yang terkesan polos dan bersih tanpa menggunakan warna-warna tajam akan  terlihat tidak berekspresi agung bila tidak diberi alis berbentuk tanduk menjangan ranggah. Kertep dan kinjengan yang keemasan akan menenggelamkan
dan menyita sinar mata yang memancarkan keagungan. Karena itu pemberian jahitan mata dan jahitan alis akan menempatkan mata sebagai konsentrasi keseluruhan ekspresi wajah yang agung, indah, dan rasa optimis untuk hari depan (Yosodipuro, 1996: iv).

Paes adalah bagian dari tata rias wajah khusus untuk pengantin putri. Paes memiliki makna mempercantik diri agar dapat membuang jauh-jauh perbuatan  buruk dan menjadi orang sholeh serta dewasa.  Pada paes terdapat beberapa bentuk, yaitu penunggul, penitis, pengapit dan godeg. 


Penunggul atau pucuk godhong suruh (pucuk daun sirih) bentuknya runcing melambangkan meru atau gunung, yang merupakan lambang Trimurti dalam konsep religi Hindu, yaitu
Shiwa, Wisnu dan Brahma. Trimurti berarti: memberi kemakmuran dan  kebahagiaan untuk umat manusia, selain itu juga menggambarkan tiga kekuatansentral yang manunggal. (HJ. Wibowo, dkk. 1987:57). Penunggul merupakan symbol atas sesuatu yang paling tinggi, paling besar & paling baik. Symbol ini bermakna kedua mempelai dapat menjadi manusia yang sempurna. Tunggul secara harfiah berarti: yang tertinggi, yang terkemuka, sedangkan penunggul berarti: intan tengah atau juga jari tengah.  

Berdasarkan letaknya di antara dua pengapit, penunggul diinterpretasikan sebagai wanita yang harus ditinggikan dan dihormati, dicintai dan harus setia.Penitis berbentuk seperti daun sirih. Bentuk paes yang berada di atas godhek ini merupakan symbol atas kearifan, yang bermakna sebagai sebuah
harapan agar kedua mempelai mencapai tujuan yang tepat. 

Pengapit berbentuk seperti Ngundhup kantil (kuncup kantil), 
Pengapit merupakan simbol atasbentuk paes yang berada diantara penunggul dan penitis. Hal ini bermakna penitis sebagai pendamping kanan dan kiri, meski menjadi manusia sempurna
namun bila terpengaruh sifat buruk dari pendamping kiri maka dapat sesat juga.
Karena itu pendamping kanan berfungsi: sebagai pemomong yang setia yang
selalu mengingatkan melalui suara hati agar tetap kuat dan teguh imannya.

Godeg yang berbentuk seperti mangot (ujung pisau melengkung seperti tanduk kerbau) lebih sebagai hiasan yang memberi keseimbangan proporsi dan pengisi bidang dahi (Wibowo dkk, 1987:58). Bentuk godhek yang melengkung kebelakang merupakan simbol atas asal usul manusia, dari mana ia datang dan kemana harus pergi. Godeg bermakna agar manusia diharapkan dapat kembali
ke asal dengan sempurna, dengan syarat harus membelakangi keduniawian. Cithak berbentuk belah ketupat memiliki arti: simbolis pusat dari seluruh daya cipta manusia. Cihtak merupakan stilasi otak atau sentrum keseluruhan kompleks ide-ide atau pusat budi daya manusia (Wibowo dkk, 1987:59).

 Cithak yang terletak pada pusat panca indra/pasu sebagai simbol pagar atau penutup
perbuatan jahat oleh orang lain. Hal ini bermakna bahwa sebagai pagar, citak akan memagari kelemahan manusia yang terdapat pada panca indra agar tidak mudah diperdaya oleh ilmu hitam.
Alis berbentuk menjangan ranggah merupakan model tanduk rusa yang menggambarkan keindahan. Secara estetika alis menjangan ranggah memberi perimbangan terhadap tata rias wajah secara keseluruhan terutama pada dahi yang meriah dan agung, serta pada hiasan rambut dan sanggul. Alis menjangan ranggah merupakan simbol kewaspadaan untuk mengatasi dan menghadapi
serangan buruk dari berbagai arah. Symbol ini bermakna bahwa seorang istri  diharapkan selalu waspada dan bijaksana (tanggap ing sasmita) (Murtiadji S,1993:21).


Kinjengan atau capung-capungan berwarna keemasan menggambarkan binatang yang tak kenal diam, selalu bergerak dan berusaha. Makna yang terkandung di dalamnya adalah pengantin diharapkan memulai hidup kelak tak kenal lelah berusaha mencari rejeki. Letak kinjengan yang berada dalam bidang penunggul, pengapit, dan penitis dimaknai sebagai sebuah hubungan fungsi:onal
antara pengertian hidup dengan otak sebagai sumber rasio. Bahwa setiap usahaselalu berpijak pada kenyataan, dan berusaha sesuai batas kemampuan (Wibowo et al., 1987: 125).


Jahitan mata adalah Riasan mata yang menimbulkan kesan mata redup dan anggun, merupakan simbol untuk memperjelas penglihatan agar berfungsi: sebagai penyaring yang dapat melihat secara jelas, mampu membedakan baik dan buruk kemudian dinalar dengan pikiran dan dapat menjadi pegangan yang kuat selama hidup. Makna dari garis yang menuju ke otak diharapkan dapat
menampung dan menyarig setiap hal yang baik dan buruk untuk kemudian dinalar sebagai lambang bahwa wanita dapat melihat setiap hal dari segi positif.Rias wajah pengantin wanita mencerminkan ekspresi wajah wanda luruhatau raut wajah yang tenang. Dahi dihias dengan cengkorongan dan diberi hiasan kertep yaitu kertas berwarna keemasan yang melambangkan keindahan,
keagungan dan keabadian. Emas yang tidak bisa berkarat dianggap sebagai
simbol abadi. Selain itu kertep hanya berfungsi: sebagai keindahan dan pengisi
bidang pengapit, penunggul, dan penitis. 

Pertemuan dua warna yang kontras ini menyebabkan adanya penonjolan bentuk yang akan menarik perhatian. 

Wanda luruh merupakan simbol atas bentuk paes yang melengkung kebawah. Symbol ini
bermakna wanita diharapkan memiliki sifat lembut dan menunduk/tumungkul
(Jawa), karena sifat kelembutan menjadi jiwa seorang wanita berbudi luhur
(wanita kang utomo). Hiasan pengantin wanita sebagian besar berkonsentrasi pada dahi. Hal ini
memberi kesan pentingnya ekspresi wajah seorang wanita sebagai  pengejawantahan jiwa. Keseluruhan perhiasan simbolik berwarna hitam yang melambangkan keabadian dan keagungan. Keterbatasan kata-kata dalam nasehat dianggap tidak akan mencapai sasaran tujuan hidup pengantin secara lengkap, karena itu nasehat-nasehat lainnya yang tidak terucap disampaikan
melalui media lain, yaitu melalui tata rias pengantin dan kelengkapan upacara pernikahan. 


Karena itu tata rias pengantin memiliki latar belakang falsafah hidup, merupakan karya tangan dan ekspresi rohani nenek moyang yang merupakan rangkaian lambang yang harmonis dan indah serta tidak terpisahkan. Pembentukan karakter berdasarkan budaya sebagai landasannya
diterapkan pada pengantin wanita sebagai calon ibu. Dengan adanya doa-doa dan harapan yang dipanjatkan, kelak wanita dapat mencapai tujuan kehidupanyang hakiki dan dapat membentuk keluarga dengan melahirkan keturunanketurunanyang berbudi pekerti. Proses pembelajaran secara tidak langsung saat memasuki gerbang pernikahan lebih ditujukan untuk mengasah kemampuan
intuisi. 

Pendekatan pembelajaran intuisi ini berdasarkan atas norma, nilai-nilai,dan tuntutan perilaku. Hal tersebut salah satunya melalui bentuk, lambang dan makna setiap elemen dalam tat arias wajah pengantin Yogyakarta, yang telah diwariskan secara turun temurun. Sebuah warisan yang berharga, yang tetap memegah teguh kearifan budaya dan lingkungan sekitar tanpa  mengesampingkan perkembangan ilmu, akulturasi budaya, dan perkembangan
teknologi. 


Sanggul Banten

Sanggul Jakarta

diambil dari IG 

@gramadanty

Pernikahan Adat Betawi

Beberapa Variasi Dalam Upacara Pernikahan
Variasi tersebut Khususnya pada peristilahan, dan kelengkapan upacara yang sifatnya lahiriah, sedangkan nilai-nilai hakiki yang terkandung dibalik upacara tersebut pada dasarnya sama. Keanekaragaman alat atau bahan yang digunakan dan penampilan tata cara dalam perkawinan tersebut berkaitan erat dengan kondisi sosial maupun aspek mata pencaharian penduduk setempat.
Miasalnya dibeberapa tempat seperti Condet, Kebon Jeruk, dan sekitarnya terdapat kue-kue yang khas dan selalu diikut sertakan dalam kegiatan upacar perkawinan. Kue-kue seperti dodol, uli dan geplak memiliki nilai tertentu sehingga suatu pesta apalagi pesta perkawinan tanpa kue-kue tersebut dirasa tidak afdol atau tidak lengkap. Begitu pula halnya dalam tata cara hubungan atau perkenalan antara pemuda dengan seorang gadis yang disebut “Ngelancong”.
Bagi remaja masa lampau proses perkenalan dan pergaulan dibatasi secara ketat oleh adat yang telah mentradisi, ada batas tertentu yang tidak boleh dilanggar.

Ngelancong biasa dilakukan pada malam hari karena bila dilakukan pada siang hari yang bersangkutan akan merasa malu atau dikarenakn pada siang hari umumnya mereka harus mencari nafkaf.
Pada permulaan Ngelancong bisanya si pemuda akan ditemani oleh temannya, tetapi pada acara Ngelancong selanjutnya ia akan melakukan seorang diri. Acara Ngelancong dimulai dengan si pemuda mengunjungi rumah si gadis dan sesampainya di rumah ia mengucapkan “Assalamu’alaikum” yang dijawab dengan “Alaikum salam” oleh si tuan rumah. Kemudian si pemuda dipersilahkan duduk diruang depan serta ditanya maksud kedatangannya.
Pada rumah Betawi masa lalu umumnya diruangan depan atau ruang tamu terdapat Bale-bale atau Dipan yang terletak di dekat sebuah jendela. Jendela tersebut terbuat dari bilah-bilah kayu yang dapat digeser membuka dan menutup, yang disebut Jendela Bujang atau Jendela Cina. Setelah orang tua si gadis mengetahui maksud kedatangan pemuda tersebut, dan setelah berbasa-basi orang tua si gadis masuk ke ruang dalam.
Acara Ngelancongpun dimulai sesuai dengan rencana yaitu pemuda dan si gadis salin bicara, tetapi pembicaraan tersebut tidak berlangsung berduaan di ruang tamu melainkan melalui celah-celah Jendela Bujang karena si gadis tidak boleh keluar melainkan tetap di ruangan dalam di balik Jendela. Sementara si pemuda tetap di ruangan depan dan bila ia ingin melihat wajah si gadis, ia hanya dapat melihat melalui celah-celah jendela tersebut.
Begitulah acar tersebut berjalan dan apabila malam telah larut biasanya orang tua si gadis bertanya kepada si pemuda apakah ia akan pulang atau menginap maka ia diizinkan tidur di ruang depan (di Bale-bale).
Pelaksanaan Ngelancong bisa berjalan berkali-kali sampai tercapai persesuaian mengenai rencana selanjutnya. Patut dijelaskan bahwa acara Ngelancong itu bisa berlangsung atas inisiatif si pemuda sendiri dan kemudian melaporkan kepada orang tuanya, atau si pemuda yang bersangkutan diberi petunjuk oleh orang tuanya untuk Ngelancong ke rumah seorang gadis yang telah diketahui sebelumnya.
Didaerah Kebon Jeruk juaga dikenal istilah mulangin kulit pisang, bawa kiras, Njotan, diderekin, pengantin permpuan dibawa mateng. Mulangin kulit pisang adalah tata krama setelah acara ngelamar yaitu mengirim makanan/masakan seperti semur, gulai buncis, serundeng dan lain-lain. Kepada keluarga calon pengantin perempuan sebagai balasan atas kiriman dan lamarannya.

Bawa Kiras adalah membawa dua ekor ayam dan beras dua kiras sebanyak kurang lebih enam liter (kiras dibuat dari pelepah pisang yang kering yang dipakai untuk membungkus beras).
Bawa kiras adalah adat kebiasaan sewaktu pengantin laki-laki untuk pertama kali menginap dirumah keluarga pengantin perempuan, pada waktu akan menginap ia membawa dua ekor ayam dan beras enam liter (sebuah kiras berisi kurang lebih tiga liter)
Pengantin diderekin yaitu pengantin laki-laki dan pengantin permpuan duduk bersanding.

Njotan yaitu mengirim beberapa tenong makanan/masakan kepada keluarga pengantin laki-laki setelah pesta dirumah perempuan. Keluarga laki-laki akan membalasnya dengan mengirim sebuah uang kuang lebih senilai makanan kiriman tersebut.
Pengantin perempuan dibawa mentah adalah pengantin perempuan dalam keadaan belum didandani atau dirias sewaktu dijemput oleh pengantin laki-laki.
Pengantin perempuan dibawa mateng adalah pengantin permpuan dalam keadaan sudah didandani atau dirias sewaktu dijemput oleh pengantin laki-laki.
Di daerah Condet untuk mengetahui apakah seorang pengantin perempuan tetangger atau tidak benar dengan cara melihat air dalam kendi yang dibawa pada waktuacara serahan. Diantara bawaan serahan terdapat pula sebuah kendi nyang penuh berisi air dan ditutup dengan sirih. Apabila sesampainya dirumah pengantin perempuan air dalam kendi itu berkurang, itu bertanda bahwa pengantin perempuan ini tidak benar (tetangger).
Dibeberapa tempat terdapat pula variasi dalam acara :
Buka Palang Pintu
yaitu selain dialog antara rombongan pengantin laki-laki dengan pihak pengantin perempuan juga diadakan pertarungan jago silat. Dengan acara ini pihak pengantin perempuan menurunkan dua jago silat sedangkan pihak pengantin laki-laki menurunkan seorang jago silatnya. pertarungan antara pesilat-pesilat itu melambangkan perjuangan menyingkirkan palang pintu setelah pertarungan selesai (selalu dimenangkan oleh pesilat pihak pengantin laki-laki) sang pengantinpun dipersilahkan masuk. Falsafah yang terkandung dalam acara ini adalah bahwa baik pengantin laki-laki maupun anak keluarganya siap melindungi pengantin permpuan yang kelak menjadi istrinya.
Acara sejenis yang berlaku di daerah Tangerang dan sekitarnya adalah acara :
Rebutan Dandang
yaitu rebutan alat memasak nasi. Dalam acara ini sebelumnya disiapkan dandang yang dikawal oleh pihak pengantin permpuan, pihak pengantin laki-laki harus merebutnya sampai berhasil. Keberhasilan pengantin laki-laki dalam merebut dandang tersebut adalah sebagai ungkapan bahwa ia siap bertanggung jawab sebagai seorang suami, dalam mengatasi berbagai masalah serta kesanggupannya untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya kelak.


Pakaian Pengantin
Pakaian Pengantin Perempuan terdiri dari :
  • Tuaki
  • Kun
  • Teratai Delima
  • Alas Kaki
  • Tata Rias Kepala Pengantin
  • Tusuk Bunga & Tusuk Kembang Kelape
  • Sumping & Tusuk Paku
  • Sanggul Buatun
  • Kembang Goyang
  • Burung Hong
  • Kerabu
  • Kalung
  • Gelang
  • Bunga Melati
  • Melati Sisir
  • Siangko


Yang dimaksud dengan pakaian sehari-hari ialah pakaian yang biasa dipakai sehari-hari. Menurut tradisi, pakaian sehari-hari pria betawi ialah baju koko atau sadariah, celana batik, kain pelekat dan peci atau kopiah. Pakaian demikian dapat pula dikenakan pada pertemuan-pertemuan tidak resmi antar keluarga atau kenalan. Jadi dapat disebutkan sebagai pakaian “setenga resmi”. Didaerah pinggiran, bahkan pakaian demikian itu pula digunakan dalam menghadiri pesta-pesta atau pertemuan resmi, pada jaman yang lalu. Pakaian laki-laki, disebut Ujung Serong biasa dipakai oleh bapak-bapak. Setelah jas tutup warna gelap, celana pantolan.
Dilengkapi kain batik dikenakan disekitar pinggang yang ujungnya serong diatas lutut. Asesoris kuku macan dan jam saku rantai.
 Tutup kepala Liskol atau kopiah dan alas kaki sepatu pantovel. Model pakaian ini dahulu dipakai para Demang ( pejabat daerah), sekarang dijadikan pakaian resmi pejabat Pemda DKI Jakarta dalam acara tertentu. Pakaian wanita Betawi yang biasa dikenakan sehari-hari dirumah berbentuk baju kurung berlengan pendek, kadang-kadang bersaku dibagian depannya, kain batik sarung. ada yang berkerudung, ada juga yang tidak, terutama orang pinggiran. Pakaian resmi hanya terdapat dikalangan pertengahan ke atas di kota, ialah pakaian yang dewasa ini dipakai sebagai pakaian resmi “Abang-abang Jakarta”. Terdiri dari tutup kepal dari batik yang berbentuk khas, disebut “liskol”, jag tutup panjang sampai beberapa sentimeter diatas lutut, pantovel, dilengkapi dengan selendang yang dililitkan pada pinggang dan “piso raut”, semacam badik diselipkan dipinggang kiri sebelah ke depan. 
Pakaian wanitanya terdiri dari kebaya panjang bagian depannya, berenda, yang sering disebut “baju encim”, kain batik corak jelamprang Pekalongan, bersanggula yang bentuknya tidak begitu besar diatas tengkuk. 

Disamping tusuk konde, dihias pula dengan bunga warna putih, misalnya cempaka putih atau melayi. Konde demikian dikenal dengan sebutan “konde cepol”

.
Warna selendang yang dikenakan dan sering kali bgerfungsi sebagaikerudung pada jaman lalau tidak begitudiserasiakan dengan warna kebaya, melainkan kontras atau mencolok. Kebaya yang biasa dikenakan oleh None Jakarta, memang lebih terkenal dibanding dengan baju betawi yang lain. Biasanya dipakai olehremaja-remaja Betawi dan kebayanya lebih panjang sedikit dibanding Kebaya Nyak. Dengan lengan diberi mansel, enam atau lima buah yang mempunyai  arti Rukun Iman dan Rukun Islam. Bahannya tipis dan memakai kutang yang lazim disebut kutang Menek. Lebih bagus lagi bila kutangnya dirancang (bordir berlubang-lubang) dengan warna kebaya yang cerah. Kain batik motif mata tumbak atau disebut juga motif gigi belalang. Kebaya Encim atau Kebaya Krancang, yang sering dipakai oleh orang-orang cina. Krancang yang halus dan berlubang-lubang mempunyai warna tersendiri yaitu putih. Bentuk Kebaya yang lancip ujungnya atau sonday.,

dikombinasi sanggul cepol dan seperangkat perhiasan.


Untuk pakaian wanita kebaya Panjang Nyak (ibu), biasa di pakai oleh ibu-ibu Betawi. Modelnya, panjang diatas lutut dan sedikit berbelah didepan dengan punggiran (gir) dari sutera atau bahan tebal maupun tipis. Dipercantik dengan selendang yang dapat berfungsi sebagai kerudung. Kebaya ini juga diperlengkapi dengan kutang berkancing sampai kepinggul dan memakai ban pinggang (pending) dari emas atau perak. kain sarung tidak memakai wiru seperti pada umumnya pakaian daerah,. Ibu-ibi muda biasanya mengenakan sarung berwarna cerah, sementara ibu-ibu berusia lanjut mengenakan kain yang berwarna agak gelap. Pakaian tradisional Penganten Betawi adalah seperangkat busana dan kelengkapannya yang dikenakan pada upacara perkawinan adat masyarakat Betawi. Sejak awal perkembangan pakaian penganten Betawi sudah tentu mendapat pengaruh unsur-unsur kebudayaan suku bangsa lain, seperti budaya Melayu, Cina, Arab maupun Barat. Dewasa ini, pengaruh budaya tersebut diadaptasi sebagai wujud yang harmonis menjadi ciri atau identitas pakaian Penganten Betawi yang dipergunakan secara turun temurun oleh orang Betawi. Secara khusus pakaian Penganten Betawi dipakai oleh penganten laki-laki dan perempuan adapun cara dan dandannya sebagai berikut.
Pakaian pengantin laki-laki Betawi disebut dandanan care Haji, modelnya diadaptasi dari pakaian Pak Haji, bentuknya Jubah dan tutup kepala “sorban” yang disebut “Alpie”/ Sebagai hiasan, jubah luar agak longgar dan besar, bagian tengah depan dari leher ke bawah terbuka. Motif hiasan flora adn fauna “Burung Hong” dari benang emas, manik/mute, bahan kain Jubah beludru, warna cerah, kunung, biru, hijau. Jubahdalam disebut “Gamis”, kain putih halus model kurung panjang, trbuka dari leher sebatas uluhati. Ukurannya lebih panjang dari pada Jubah luar sebatas mata kaki. Perlengkapan lain, selendang dikenakan di Gamis berhias motif-motif dari benang emas, mute/manik bahan beludru, warna cerah, Alas kaki sepatu model pantovel memakai kaus kaki.
Pakaian penganten perempuan Betawi, disebut Rias Besar Dandanan Care None Pengantin Cine, Budaya warna Cina lebih jelas dari modelnya, nama-nama kelengkapan dan motif-motif hiasannya. Bajunya model blus sianghai ciri khas pada krah, Bahan saten atau lame, warnanya cerah sesuai dengan penganten laki-lakinya. Baju bawah disebut Kun melebar cerah sesuai dengan penganten laki-lakinya. Baju bawah disebut Kun melebar ke bawah, motif hiasan Bunga atau Burung Hong dibuat dari tatanan mute/manik dan benang emas. 
Warna rok/kun biasanya gelap, merah hati atau hitam.


Ciri khas rias penganten perempuan Betawi pada hiasan bagian kepala dan muka atau wajah. Hiasan kepala Kembang Goyang motif Burung Hong, diwajahnya memakai Cadar dan sanggulnya buatan. Perhiasan lain, gelang listring, Kalung Tebar, anting Kerabu, hiasan dada teratai manik-manik dan alas kaki selop kasut model perahu. Hiasan bunga melati berupa Roje melati dan Sisir melati pelengkap tata rias penganten Perempuan Betawi.

Ngelamar
Rombongan pelamar terdiri dari :
Mak Comblang yang akan bertindak selaku juru bicara.
Dua pasang pria dan wanita setengah baya sebagai utusan yang mewakili orang tua laki-laki.
Yaitu sepasang dari pihak ayah dan sepasang dari pihak ibu.
Sesuai dengan adat kebiasaan utusan tersebut membawa kelengkapan ngelamar yang disebut bawaan ngelamar yang terdiri dari :
Pisang raja dua sisir dibawa di atas nampan yang dihiasi dengan kertas warna-warni. Setiap ujungnya ditutup dengan cungkup kertas minyak berwarna hijau, kuning atau merah
Roti tawar dibawa di atas nampan dihias dengan kertas warna-warni.
Uang sembah lamaran, hadiah lainnya berupa baju atau bahan pakaian wanita.
Setibanya di rumah kediaman keluarga si gadis mereka langsung diterima oleh tuan rumah dan dipersilahkan duduk di ruang depan. Mak Comblang memulai pembicaraan, mengenai maksud kedatangannya :
Mak Comblang : ‘“Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh’”
Hadirin : “Waalaikum Salam Warohmatullahi Wabarakatuh”
Mak Comblang : “Saya niih sekarang nerusin pembicaraan nyang lalu ketike kite udeh paketan nyang saye udeh boleh ngelamar kemarin”
Wakil keluarga tuan rumah biasanya akan membenarkan dengan mengatakan : “Saye…….”
Jawaban tersebut biasanya diikuti dengan anggukan seluruh keluarga tuan rumah.
Setelah melihat tanda persetujuan tersebut baik dari pihak tuan rumah maupun pihak keluarga si pemuda yang menyertainya maka dengan nada gembira Mak Comblang meneruskan berkata : “Jadi…….sekarang Mpok dan Abang wakil tuan rume, seperti nyang kite liat‘ ni, ade bawa’an Sirih Embun komplet ame perangkatnye. Tapi sebelum diterima bawa’an ini, mohon maaf sebesar-besarnya kalau disini saya mau nanya dikit “Wakil keluarga tuan rumah: Nanya apa Mpok?”
Mak Comblang : “Kite udeh nyampe…..tapi, mane die si none calon mantu kite? Yah….orang kate, Ncang dan Ncingnye ikut saye kesini pengen belajar kenal ame None Mantunye. Boleh kan?”
Sebagai dari pertanyaan ini adalah keharuasan menghadirkan None Calon Mantu kehadapan para utusan. Kepada para utusan tersebut si gadis harus melakukan sembah takzim dan cium tangan. Setelah itu diserahkan uang sembeh lamaran yang khusus diberikan kepada si gadis calon menantu tersebut.
Setelah acara ngelamar selesai maka dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai serah uang dan Bawa Tande Putus. Acara Bawa Tande Putus adalah merupakan unsur yang menentukan dalam rangkaian adat perkawinan Betawi. Karena sebelum bawa tande putus disepakati mungkin saja maksud tersebut menemui kegagalan. Sebab meskipun acara ngelamar telah dilaksanakan bukan berarti si pemuda telah berhasil mengalahkan pemuda lain yang merupakan saingannya.
Apabila  waktu serah uang dan bawa tande putus telah disepakati maka persiapannya akan dibicarakan secara lebih rinci seperti :
Apa dan berapa banyaknya tande putus.
Berapa biaya yang diperlukan untuk keperluan pesta.
Berapa lama atau berapa hari pesta itu akan diselenggarakan.
Berapa perangkat pakaian upacara perkawinan yang akan dikenakan pengantin perempuan.
Siapa dan berapa banyak undangan.
Seperti diketahui bahwa dikalangan masyarakat Betawi semua hari itu sama baiknya. Tidak ada hitungan atau ramalan mengenai hari baik atau jelek.
Tapi pada umumnya peristiwa ngelamar sering dilakukan atau dilaksanakan pada hari Rabu. Maka biasanya acara serah uang dan bawa Tande Putus akan dilaksanakn pada hari Rabu berikutnya atau seminggu kemudian.
Mas kawin
Di dalam pembicaraan pada waktu ngelamar ditanyakan pula bentuk mas kawin yang dikehendaki oleh None Mantu dan apabila dijawab dengan kata-kata si None Kite minta mate bandeng seperangkat itu adalah kata kiasan yang berarti bahwa si calon menantu menghendaki mas kawin berupa perhiasan berlian seperangkat. Begitu pula halnya dengan mas kawin berupa mate kembung seperangkat berarti mas kawin yang diminta adalah perhiasan bermata intan asli seperangkat.
Biasanya baik Mak Comblang maupun utusan keluarga calon Tuan Mantu akan memahami kata-kata bersayap ini.
Berdasarkan pembicaraan tentang mas kawin ini pihak Tuan Mantu harus bisa memperkirakan berapa jumlah Tande Putus yang harus merka bawa pada waktu ketemu Rebo nanti.
Aqad Nikah
Pada waktu penyerahan tande putus dibicarakan pula mengenai benda-benda serahan yang akan dibawa pada waktu Aqad Nikah. Benda atau barang-barang itu antara lain terdiri dari :
Sirih Nanas Lamaran beserta Sirih Nanas Hiasan
Kekudang yaitu makanan yang disukai oleh calon pengantin permpuan sejak masa kanak-kanak
Mahar atau Mas Kawin
Miniatur Mesjid yang berisi sejumlah uang belanja
Sepasang Roti Buaya
Shie berupa kotak kayu segi empat dengan ukiran gaya Cina berisi sayuran
Satu perangkat idam-idaman yaitu bermacam-macam buah-buahan yang ditempatkan dalam wadah berbentuk perahu
Hadiah-hadiah lainnya berupa seperangkat pakaian, selop dan alat-alat kecantikan
Kue Penganten
Aqad Nikah diselenggarakan pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at ditempat kediaman keluarga calon pengantin perempuan.
Rombongan Pengantin laki-laki atau rombongan Rudat Calon Tuan Mantu terdiri dari :
Dua orang pemuda sebagai pngawal terdepan. Kedua orang pemuda tersebut membawa tongkat yang pada bagian atasnya dihias dengan serumpun kembang kelape dari bahan kertas warna-warni. Pakaian yang dipakai mereka yaitu pakaian pangsi atau pakaian pesilat.
Empat orang pemuda memakai pakaian sadarie yang membawa : Sirih Nanas Lamaran, Mas Kawin, Kue Susun Pengantin dan Sirih NanasHiasan.
Dua orang laki-laki setengah baya memakai Jas Tutup yang bertugas sebagai juru bicara
Calon Pengantin laki-laki atau Calon Tuan Mantu memakai Kain Serebet yaitu Jas Model Belande, kemeja putih tanpa dasi dan kain sarung sebagai pengganti pentalon. Memakai pici hitam dan sepatu pantovel hitam. Dia berjalan diapit oleh dua orang laki-laki setengah baya yang mengenakan Jas Tutup
Enam orang penabuh Rebana memakai pakaian Sadarie.
Serombongan alim-ulama bersama keluarga yang mewakili kedua orang tua pengantin laki-laki.
Kelompok pembawa hadiah-hadiah yang membawa sepasang Roti Buaya, Miniatur Mesjid berisi sejumlah uang, nampan-nampan berisi perangkat pakaian wanita yang dibentuk seperti burung, angsa dan sebagainya. Shie yang berisi sayuran dan telor asin matang serta perahu-perahuan yang berisi idam-idaman berupa buah-buahan. Para pembawa hadiah tersebut terdiri dari para pemuda teman pengantin laki-laki dan sanak keluarga serta sahabat dekatnya.
Acara Membuka Palang Pintu
Pada saat calon pengantin laki-laki dan para pengiringnya sudah mendekati tempat kediaman calon pengantin perempuan mereka disambut dengan bunyi petasan serenceng.
Begitu sampai di halaman rumah mereka ditahan dulu oleh beberapa orang pihak tuan rumah yang menutup pintu masuk. Dalam keadaan ini Rudat Tuan Mantu wajib melaksanakan apa yang diistilahkan membuka Palang Pintu, diawali dengan mengucapkan Assalamu’Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh oleh wakil rombongan.
Sesuai dengan adat kebiasaan maka salam pertama tidak boleh dijawab, begitu pula salam yang kedua baru pada salam yang ketiga dijawab dengan : Waalaikum salam Warohmatullahi Wabarokatuh.
Siape ye…..yang di luar itu?
Kemudian akan terjadi dialog berpantun yang lucu akan tetapi mengandung kesungguhan. Dialog itu berisi antara lain bahwa rombongan Tuan Rumah jangan berkura-kura dalam perahu, bahwa rombongan yang datang adalah rudat si Tuan Mantu atau Raja Mude.
Juru bicara yang mewakili rombongan tuan rumah akan menjawab kalu mereka bukan berpura-pura tidak tahu.
Kemudian si juru bicara berkata : Namun yang ade mungkin rase hawatir, kalau rudat si Tuan Mantu ini salah alamat. Hingga tak ada salahnye jika kite bertanye siape namanya si Tuan Mantu kirenya?
Wah…..? : Baik…baik…: Andaikan itu dikate perlu… Raje Mude nyang ude kebelet ini namenye…(disebut namanya).
Bener die?… Jikalau begitu tidak salah lagi, kesini sudah tujuannya nyang pasti.
Nah…Nah : Benerkan?: Ude de. Izinin kite masuk, Tuan Mantu ude mulai gerah. Tuan penghulu kelihatannya di dalam situ juga mulai begah?
Ntar dulu Tuan juru bicare. Soal nikah mah urusannye cuman soal dua tiga hitungan ya, tuan. Tetapi sebelum tuan putri jadi None Mantu, Die kate tadi nitip syarat, biar saye nyampein agar Sang Raja Mude sudilah kiranye ngajiin Al Quran satu dua ayat.
Jika dalam permintaan ngaji ini yang diminta si calon penganten  laki-laki maka ia yang harus melaksanakan dan tidak boleh diwakilkan kepada siapapun. Jika yang disebut orang lain biasanya pasangan sang juru bicara atau juru bicara seorang lagi yang akan melaksanakn tugas itu. Setelah satu atau dua ayat diucapkan dengan berlagu maka juru bicara pihak pengantin laki-laki akan memujinya dan segera meminta untuk masuk karena syara telah dipenuhi.
Akan tetapi juru bicara yang mewakili tuan rumah segera berkata :
Eeee : Sabar dulu tuan juru bicara : Tuan Mantu nampaknye tiade tandingannye. Tetapi untuk masuk masih ade syaratnye yang lain, tuan. Wah : Bener-bener’ni ente….Eh, Tuan : Ente dan ane same-same cuman juru bicare. Bang!! Tuan Mantu udeh bener orangnye! kagak ketukar kagak salah alamat. Ngajinye juga ude menuhi syarat. Eh, tuan juru bicare, jangan bikin ulah sampai kesabaran saye jadi ilang acare ini bisa urung……!
Eee! urung itu bukan tujuan. Lagi pula, Tuan Mantu memang ude sejak tadi dinantikan. Sayangnya…. Enyak dan Babe si None yang saye wakilin, minte ditarikin lagu Sike seperti ketike die berdua dinikahin!
Dari tadi kek dibilangin. Kalau kagak iter-iter omongan tuan Juru Bicare, sobat saya pasti ude nyanyi’in  ‘ ntuh lagu Sike. Ayo Bang….tolong tarikin  ‘ntuh lagu Sike-nye, biar urusan cepet rapinya.
Setelah lagu Sike selesai dinyanyikan maka juru bicara Tuan Mantu dengan nada kesal yang dibuat-buat berkata lagi:Syaratnye udah dipenuhi, hendaknye jangan cari alasan dan syarat lagi, Jangan sampe segala Ngkong, Ncang dan Ncing-nye juga minte macem-macem.
Namun tentu semuanya ini hanya basa-basi. Sebab segera setelah juru bicara Tuan Mantu ngedumel  amak juru None Mantu akan berkilah sedikit kemudian mempersilahkan rombongan Rudat Tuan Mantu masuk ke rumah.
Acara membuka palang pintu selesai dan calon pengantin laki-laki duduk di tempat yang telah disediakan, disaksikan oleh ayah serta kerabat laki-laki, para ulama dan undangan khusus lainnya.
Sesuai dengan ajaran agama Islam acara Aqad Nikah dilaksanakan sebagai berikut :
Beberapa pertanyaan diajukan kepada calon pengantin laki-laki antara lain mengenai nama, umur dan kesediaannya untuk dinikahkan kepada gadis pilihannya.
Ketika penghulu mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada calon pengantin laki-laki si calon penganti perempuan tetap tinggal didalam kamar bersama Dukun Pengantin. Pak penghulu akan menghampri apabila ada pertanyaan yang akan diajukan kepadanya. Setelah selesai Ijab Qabul dimana Penghulu telah mengakhiri khotbah nikah dan nasihat-nasihatnya, pengantin laki-laki langsung menemui orang tua serta kerabatnya untuk sujud dan cium tangan.
Pada waktu hendak melakukan cium tangan kepada mertua laki-laki sang mertua mengelakkan tangannya dengan gerakan silat, dalam hal ini sang menantu memahami bahwa ia sedang diuji. Ia pun mengimbangi gerakan tersebut dan menangkap tangan sang mertua. Adegan tersebut adalah bentuk ungkapan yang mengandung arti pengujian terhadap kemampuan si menantu dalam hal melindungi isterinya.
Setelah acara Aqad Nikah selesai rombongan pengantin laki-laki pamit dan kembali ke rumah orang tuanya. Sebelum pulang ia dibekali bermacam-macam makanan matang seperti; Ayam bekakak, pesmol ikan, semu daging, gulai buncis serundeng ikan cincuan dan kue talam udang, pepe, bugis, ande pite, leken.
Keesokan harinya setelah acara Aqad Nikah yaitu hari sabtu setelah menjelang Dzuhur pengantin perempuan didandani untuk menerima tamu undangan. Tamu-tamu yang datang khususnya adalah ibu-ibu kerabat atau teman dekatnya.
Setelah shalat Dzuhur sampai Ashar tamu-tamu yang datang adalah para bapak-bapak seperti teman kerja, tetangga atau kerabat ayahnya.
Sewaktu menerima tamu undangan tersebut pengantin perempuan berganti-ganti pakaian, antara lain :

  • Pakaian Penganten Care Serimpi
  • Pakaian Penganten Care Nyi Roro Kidul
  • Pakaian Penganten Care Puteri Duyung
  • Pakaian Penganten Care Seribu Satu Malam
  • Pakaian Penganten Care Delilah
  • Pakaian Penganten Care Belande



Adapun sedikit banyaknya pakaian penganten yang dikenakan tergantung kepada kemampuan atau biaya yang tersedia.
Pakaian Pengantin laki-laki disebut Pakaian Pengantin Dandanan Care Haji dinamakan demikian karna pakaian tersebut diadaptasi dari pakaian Haji atau pakaian muslim.
Sesuai dengan fungsinya sebagai pakaian kebesaran pengantin, pakaian ini dihias dengan benang emas dan manik-manik yang gemerlapan. Ragam hias tersebut disulam pada bagian depan jubah memanjang pada bagian pinggir dari dasar jubah sampai kebatas pundak.Pakaian Pengantin Laki-Laki
Piare Calon Penganten
Calon pengantin dirawat atau dipiare selama seminggu seminggu atau sepuluh hari, dilakukan oleh seorang wanita yang khusus menangani hal tersebut. Selama dirawat calon pengantin tersebut minum jamu pengantin dan air secang, memakai lulur serat menjalani beberapa pantangan.
Misalnya tidak boleh bercermin, tidak boleh mandi, tidak boleh menukar pakaian, makan gorengan, dan sebagainya, semua ini dimaksudkan agar calon pengantin tersebut menjadi singset atau langsing sehingga kelihatan lebih cantik, bercahaya wajahnya/kulitnya pada waktu dirias, selama itu juga dimaksud agar calon pengantin tidak banyak mengeluarkan keringat.
Pada masa itu ada kebiasaan bahwa calon pengantin sebelum siraman, giginya dipapat (diratakan), hal ini sekarang sudah tidak dijalankan lagi. Papat dimaksudkan untuk mempercantik calon pengantin tersebut.
Sehari sebelum hari pernikahan atau pagi harinya, biasanya akad nikah dilaksanakan pada hari Jum’at, setelah ashar calon pengantin dimandikan oleh tukang piare pengantin/perawat pengantin.
Sebelum upacara mandi, calon pengantin meminta izin orang tuanya dengan menemuinya dan mencium tangannya,

pengantin memakai kemben serta kebaya tipis, rambut disanggul biasa dan mengenakan kerudung tipis.

Yang memandikan hanya tukang piare pengantin (kecuali ada permintaan lain dari pihak keluarga, misalnya disertakan juga beberapa orang tua). yang lain hanya menyaksikan saja.
Perlengkapannya adalah :
Kembang 7 rupa (setaman)
Paso tanah
Gayung batok
Pedupan dengan setanggi/gahru yang diletakkan di bawah bangku tempat penganti duduk
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan oleh keluarga pengantin pakaian bekas mandi diberikan kepada tukang Piare Pengantin sebagai hadiah.
Setelah upacara mandi, pengantin menjalani upacara tangas atau kum (semacam mandi uap) untuk membersihkan bekas-bekas lulur dari pori-pori dan membuat kulit pengantin menjadi wangi serta tidak mengeluarkan keringat pada waktu rias.
Peralatannya adalah :
Kembang 7 rupa (kembang setaman)serta ramuan lainnya seperti : Daun jeruk purut, daun pandan, akar wangi, daun mangkok dll
Paso tanah
Kursi rotan bolong-bolong
Tikar atau kain penutup
Kembang 7 rupa (kembang setaman)dan ramuan-ramuan dimasak, lalu dituang kedalam paso. Pengantin duduk dikursi rotan bolong-bolong, yang dibawahnya diletakkan paso yang berisi air panas, kembang, ramuan-ramuan lainnya. sehingga uapnya naik ke atas. Seluruh badan pengantin dikerudungi dengan kain atau dikelilingi tikar dan atasnya ditutup dengan kain.
Hal ini dimaksudkan agar uap tidak keluar, tetapi meresap ke pori-pori dan membersihkan sisa-sisa lulur tersebut.
Setelah ditangas pengantin dikeringkan dan mengenakan kebaya Betawi, selanjutnya diserahkan kepada tukang rias pengantin untuk menjalani upacara cukuran. Upacara cukuran berlangsung didalam kamar pengantin.
Peralatannya :
Kain putih kurang lebih 2 meter untuk alas
Kembang 7 rupa (kembang setaman)
Air putih dicawan dengan sekuntum bunga mawar atau lainnya untuk tempat gunting
Pedupaan
Alat cukur
Uang logam ratusan untuk batas centung (satu kali lipatan) dan untuk batasan mencukur anak rambut
Tempat sirih komplit
Yang dibersihkan adalah : bulu-bulu kalong pada kening,pelipis dagu, tengkuk
Setelah upacara cukuran selesai, malam harinya pengantin menjalani upacara malam pacar.
Lepas sembahyang magrib keluarga dan para handai taulan serta teman-teman pengantin berkumpul dan bersiap-siap untuk memulai acara ini.
Dengan mengenakan baju none yang cerah atau kebaya kerancang Betawi, dengan perhiasan Betawi seperti : peniti rante, pending, anting-anting atau giwang.
Pengantin keluar dari kamar dibimbing orang tua perempuan dan perias pengantin menuju tempat yang telah disediakan.
Di atas permadani yang terhampar, ada bantal yang dialasi oleh daun pisang yang digubah.
Setelah siap, pemakaian pacar dimulai yaitu pada kuku-kuku tangan, kaki dan telapak tangan.
Yang membubuhkan pacar adalah anak-anak gadis atau kawan-kawan pengantin serta kerabat. Untuk keperluan ini digunakan daun pacar yang didapat dari mekah.
Pada malam ini biasanya diadakan pula malam mauludan atau selamatan.
Pulang Tige Ari dan Laksa Penganten
Untuk keperluan acara pulang tiga hari tersebut utusan yang bertindak sebagai wakil keluarga pengantin laki-laki akan datang menjemput pengantin perempuan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Keberangkatan pengantin perempuan diantar oleh beberapa orang yang mewakili orang tuanya.
Sebelum berangkat ke rumah mertuanya ia diberi wejangan bagaimana seharusnya ia berperilaku di rumah suaminya itu nanti. Misalnya ia harus bangun lebeih pagi dari pada mereka yang berada di rumah mertuanya, dan seterusnya.
Disamping wejangan-wejangan tersebut yang khusus dan penting adalah : Apabila malam setelah pesta di dalam kamarnya ia menemukan sepotong kain putih, dan seperangkat tempat sirih berisi daun sirih dan kelengkapannya, maka ia harus mau diajak kumpul bersama suaminya.
Menurut adat bahwa setelah malamnya merka kumpul sebagai suami istri, keesokan harinya atau pagi-pagi sekali si suami akan meletakkan perangkat sirih tersebut didepan pintu kamar pengantin.
Apabila tempat sirih itu terletak rebeh itu adalah isyarat si suami bahwa pengantin perempuan masih suci.
Dalam hal demikian orang tuan pengantin laki-laki memahami makna artinya dan mengucapkan syukur. Begitu pula halnya orang tua mempelai perempuan sangat gembira diberi tahu bahwa anaknya menikah dengan keadaan suci. Bagi orang tua pengantin perempuan kesucian sebelum nikah dinilai sangat tinggi karena hal itu berkaitan dengan martabat dan harga diri anak perempuannya, orang tua serta selurih keluarganya
Maka sebagai ungkapan rasa syukur, Orang tua pengantin laki-laki akan menyiapkan bahan-bahan lakse yang kemudian dikirimkan untuk dimasak oleh keluarga pengantin perempuan.
Setelah memasak lakse selesai, maka acara lakse pengantin diadakan dengan meriah dikediaman oarang tua pengantin laki-laki dan dihadiri oleh kedua belah pihak keluarga pengantin.
Acare Kebesaran
Acare Kebesaran adalah merupakan puncak pesta perkawinan di mana pada saat ini kedua mempelai bersanding di puade. Upacara berlangsung pada hari minggu dimulai sekitar jam sepuluh pagi. Kedatangan penganten laki-laki kali ini tidak dirudat atau di arak lagi melainkan hanya diantar oleh teman-temannya dan beberapa pasang wakil pihak keluarganya.Acare Kebesaran2
Sementara itu pengantin perempuan sejak pagi-pagi didandani dengan Dandanan Care None Penganten Cine atau Rias Besar. Sambil dirias ia diberi pesan agar sewaktu duduk bersanding tidak berbicara dengan suaminya, meskipun si Tuan Mantu telah resmi menjadi suaminya sejak hari jum’at (Aqad Nikah). Karena hal tersebut dilarang oleh aturan adat.
Pengantin perempuan atau none Pengantin seluruh bagian kepalanya ditutup dengan kerudung pengantin yang dibuat dari kain tule halus. Ia dituntun oleh Tukang Piare Penganten menuju taman pengantin dan duduk di puade menanti kedatangan pengantin laki-laki.
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa kedatangan pengantin laki-laki tidak dirudat atau di arak lagi begitu pula halnya pihak pengantin perempuan tidak mengadakan acara penyambutan khusus. maka segera setelah pengantin laki-laki datang ia diturunkan oleh Tukang Piare Pengantin untuk dipertemukan dengan istrinya. Setelah berdekatan pengantin perempuan yang duduk di puade diajak berdiri oleh Tukang Piare Pengantin untuk menyambut suaminya. Si pengantin laki-laki memberi salam sambil menyembah menyerahkan sirih dare dan dibalas oleh pengantin perempuan sambil menerima sirih dare tersebut yang kemudian diserahkannya kepada Tukang Piare
pengantin. Pada saat ini kerudung pengantin perempuan telah dilepaskan dan Tukang Piare Pengantin membimbingnya untuk mencium tangan pengantin laki-laki.
Setelah selesai serah terima sirih dare kedua mempelai duduk dikursi penganti atau puade masing-masing mengenakan pakaian dandanan Care None Pengantin Cine dan Penganten Dandanan Care Haji. Pesta kebesaran ini berlangsungseharian dan dilanjutkan pada malam harinya dengan acara hiburan atau kesenian.
Penganten Sundel Mayang
Sebagaimana telah diketahui bahwa pesta pengantin dilaksanakan baik ditempat pengantin perempuan maupun dikediaman pengantin laki-laki. Apabila pelaksanaan acara pesta kebesaran waktu atau harinya bersaman maka si pengantin perempuan akan dipinjam beberapa jam lamanya untuk disandingkan dengan pengantin laki-laki pada pesta yang berlangsung dirumah kediamannya. Setelah acara tersebut yang biasanya berlangsung kurang lebih dua jam, si pengantin perempuan akan dikembalikan lagi ketempat bpesta ditempat orang tuanya, dengan diantar oleh pihak keluarga laki-laki.
Acare KebesaranAcara pinjam pengantin perempuan ini disebut Penganten Sundel Mayang yang digambarkan sebagai berikut : Dari saat pengantin perempuan dibawa dari pelaminan atau taman pengantin ketempat tujuan yaitu ketempat pesta keluarga pengantin laki-laki, si pengantin perempuan dilarang menginjak tanah. hal ini sebagai ungkapan bahwa si pengantin perempuan telah ditangas, dirinya dalam keadaan suci bersih.
Untuk keperluan dan untuk memenuhi syarat tersebut si pengantin perempuan akan didudukkan di atas sebuah kursi kemudian di gotong ketempat tujuan. Sementara pengantin perempuan di gotong diatas kursi pengantin laki-laki berjalan kaki mendampinginya.
Seandainya perjalanan itu lebih jauh maka acara gotong pengantin prempuan tersebut cukup sampai kekendaraan yang telah disiapkan untuk kemudian membawanya ke tempat tujuannya.
x
Malem Negor
Malam berikutnya setelah selesai acara kebesaran di rumah pengantin perempuan si pengantin laki-laki diizinkan menginap di rumah keluarga pengantin perempuan. Selama tinggal serumah secara adat mereka belum boleh kumpul sebagaimana layaknya suami istri, bahkan si pengantin perempuan harus tetap bertahan untuk tidak bertegur sapa dengan suaminya.
Akan tetapi meskipun demikian di dalam kamar telah disediakan keperluan si suami seperti makan,minuman dan sebagainya. Untuk mengajak atau usaha agar si istri mau diajak bicara atau tersenyum si suami akan memberikan sejumlah uang, disebut uang tegor yang akan diberikan dengan cara meletakkan uang tersebut di bawah taplak meja di dalam kamar pengantin.
Malam negor ini kadang-kadang berlangsung sampai beberapa hari, demikian pula pemberian uang tegor akan dilakukan sampai berulang kali sampai akhirnya si istri mau di ajak bicara. Bertahannya si istri pada malam tegor itu dapat ditafsirkan sebagai ungkapan harga dirinya bahwa ia bukan perempuan gampangan, selain itu pada malam tegor mereka bisa saling mengenal secara lebih mendalam.

sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta

Sanggul Daerah Jawa Tengah

Sanggul Daerah Jawa Barat

SANGGUL CIWIDEY
Sanggul ciwidey adaalah sanggul yang biasa dipakai oleh masyarakat Sunda. Sedangkan nama ciwidey adalah nama sebuah kota disebelah selatan kota Bandung. Pada masa kejayaan kerajaan Sumedang, bentuk sanggul ini dinamakan sanggul Pasundan/ sanggul kesundaan/ sanggul kebesaran yang dipakai oleh kaum bangsawan sampai rakyat biasa. Hingga sekarang sanggul ini tetap dipakai oleh berbagai kalangan hanya saja lebih dikenal dengan sanggul ciwidey. Dilihat dari bentuknya, masyarakat sunda mengidentikkan dengan huruf arab, yaitu huruf alif dan nun atau biasa dikatakan alif pakait sareng nun. Penggunaan sanggul ini diletak tepat ditengah kepala bagian belakang, dan bagian depan sanggul sampai batas tumbuh rambut/ hairline bagian bawah. Penataan bagian depan ada sunggaran bentuk bulat atau biasa disebut jabing. Dan menggunakan perhiasan berupa cucuk gelang, dari emas atau perak untuk kaum bangsawan dan terbuat dari tanduk biasa digunakan oleh masyarakat biasa.
Aksesoris 2 buah cucuk gelung, yang diletakkan pada tengah sanggul bagian kiri kanan. Alat bahan: a) sisir sasak b) sisir penghalus c) jepit bebek besi d) jepit hitam e) harnal baja f) harnal halus g) karet gelang h) hair net i) hair spray j) cemara rambut 90-100 cm
Cara pembuatan:
a. setelah rambut dipratata, rambut dalam keadaan kering, rambut dibagi menjadi dua bagian , bagian depan dan belakang.
b. Bagian depan rambut disasak dan dibentuk jabing/ sunggaran, yang berbentuk membulat.
c. Rambut bagian belakang diikat setinggi 5-7 jari dari batas pertumbuhan rambut bagian bawah (hair line) dan tambahkan cemara rambut, satukan dengan rambut asli pilin dan sisir hingga rapi.
d. Letakkan tangan kiri di bawah cemara kemudian tangan kanan memutar cemara pada tangan kiri. Putaran cemara rambut hanya sebatas pertumbuhan rambut bagian belakang (hairline).
e. Setelah semua terputar tekan tangan kiri pada bagian pangkal rambut, sehingga pangkal rambut mencuat keluar dan putaran rambut sisinya akan mengikat tengah rambut sedemikian rupa, sisa rambut diselipkan di belakang konde.

f. Rapikan ukel tersebut, ukel dapat ditarik-tarik sehingga sisi rambut kiri kanan dapat terlihat dari depan melalui leher. Dan bagian atas dapat sejajar dengan sunggar ataupun sasakan bagian atas.

Sanggul Daerah Jawa Timur

Sanggul daerah Mataram

sanggul daerah kupang

Sanggul Daerah Gorontalo

Sanggul Daerah Mamuju

sanggul daerah palu

Sanggul daerah Manado

Sanggul Manado / Pingkan
diambil dari IG @karena.makeup

diambil dari IG @voletta_makeup




SANGGUL PINGKAN
SANGGUL PINGKAN Propinsi Sulawesi Utara terdiri dari beberapa daerah, yang masing-masing masyarakatnya mempunyai pakaian adat dan sanggul yang khas. Menjelang akhir abad ke 17, yaitu tahun 1690, di Tanah Wangko, salah satu tempat di Minahasa, ada seorang gadis keturunan Walian Ambowailan (ambelan), yang bernama Pinkan Mogoghunoi. Gadis itu mempunyai rambut yang sangat panjang hingga mencapai lantai. Rambut itu selalu dikepang (dicako). Pada saat-saat tertentu, rambutnya dikonde atau ditaldimbu kun (bahasa Tombulu) atau diwulu’kun (bahasa Tontemboan). Jadi, kreasi konde ini berasal dari seorang gadis yang bernama Pinkan, yang kemudian pada abad ke 19 ini makin disempurnakan. Aksesoris Sekuntum bunga mawar yang warnanya disesuaikan dengan warna pakaian
Alat dan bahan: a) sisir sasak b) sisir penghalus c) jepit bebek besi d) jepit hitam e) harnal baja f) harnal halus g) karet gelang h) hair net i) hair spray j) cemara rambut 90-100 cm

cara pembuatan:
  •  1) sasak seluruh bagian rambut hingga agak mengembung, yang besarnya disesuaikan bentuk wajah serta badan
  • 2) sisir semua ke arah belakang, hingga tengkuk
  •  3) pada bagian hairline belakang rambut dibagi menjadi dua bagian kiri dan kanan, ikat
  •  4) apabila rambutnya panjnag kepanglah rambutnya, apabila rambutnya pendek pasangkan kepangan rambut, ikat kuat
  •  5) putarkan kepangan tersebut , membentuk pusaran rambut, lakukan pada bagian lainnya
  •  6) kencangkan dengan harnal dan jepit, rapikan dengan hair spray
  •  7) pasangkan bunga mawar di sebelah kiri 8) putaran kepangan rambut akan terlihat dari depan

sanggul daerah Kendari

Sanggul dari Daerah Papua

Papua ( Daerah Khusus ) Dengan sanggul   Jayapura









Baju Pengantin Papua

Baju yang dikenakan oleh keluarga mempelai umumnya masih tetap bercorak umum. Yaitu baju paling baik yang mereka punyai, serta wanitanya terus dibalut oleh sarung hasil tenunan lokal. Sedang prianya walaupun bercelana panjang terus kenakan hiasan gading gajah atau babi, dan juga hiasan bulu burung cendrawasih pada ikat kepala mereka.
Sedang baju pernikahan yang dikenakan oleh ke-2 mempelai yaitu baju putih-putih. Orang Papua memanglah senang pada warna putih dalam berbusana, hal semacam ini adalah satu perubahan yang jalan bersamaan dengan saat. Walau mereka terus suka pada beberapa warna meriah serta corak khas Papua, seperti manik-manik atau hiasan bulu cendrawasih. Gabungan warna yang digunakan disimbolkan oleh corak warna bulu burung cendrawasih.




Sanggul dari Daerah Papua Barat Dengan sanggul Manokwari

Sanggul Daerah Maluku - Ambon

Sanggul Maluku - Maluku Utara Sofifi

sanggul daerah Tanjung Selor

sanggul daerah Palangkaraya

Sanggul adalah kundai, konde, atau rambut wanita (yang panjang) yang digelung diatas kepala, atau dibelakang kepala.
(Badudu dan Zain,1994 : 1219).
Sanggul yang penulis maksudkan adalah sanggul puleh sangkilut, yaitu sanggul tradisional Dayak Maanyan Kalimantan Tengah.

naurai natringit(janur pendek dibentuk seperti bulu burung haruci) 7-9 buah • Mayang pinang melati guntai 5 tangkai Jambul puleh sangkilut (sanggul jambul

sanggul Banjarmasin

sanggul   Banjarmasin

sanggul daerah dari Samarinda

sanggul Daerah Pontianak

Sanggul Kalbar
Sanggul dendeng
diambil dari IG : hair.beutiful ( @hairbeuty_ )

 
SANGGUL DENDENG ( KALIMANTAN BARAT )
Salah satu sanggul dari daerah Kalimantan Barat, khsusunya di Kabupaten Ketapang adalah sanggul dendeng atau biasa juga disebut sanggul lipat pondan.
Kata dendeng berarti ‘terpampang’.
 Sanggul Dendeng yang berasal dari Ketapang, Kalimantan Barat ini biasadigunakan oleh wanita anggota kerajaan pada upacara pengantin haid yaitu saatdimana seorang remaja menginjak ke dewasa. Bentuk sanggul ini menyerupaiangka delapan yang diletakkan horizontal tegak.Asal-usul sanggul ini hingga sekarangbelum jelas. Bentuknya mirip dengan bentuk sanggul yang dikenakan oleh wanita Dayak yang beragama Islam.Menurut cerita para tetua, dahulu kala di daerah Kabupaten Ketapang adaketurunan raja-raja yang cukup disegani dan terkenal, yaitu keturunanPanembahan Muhammad Saunan. Sekitar tahun 1930-an keturunan terakhir  panembahan ini masih menggunakan sanggul dendeng. Pada masa itu sangguldendeng hanya dipakai pada upacara-upacara tertentu, misalnya upacara pengantin haid, yaitu upacara bagi seorang gadis keturunan raja atau panembahanyang baru pertama kali mendapat haid yang kemudian langsung dijodohkan ataudinikahkan. Akan tetapi, upacara adat seperti ini sudah sangat sulit ditemukan didaerah Kabupaten Ketapang sekarang ini.

SEJARAH SANGGUL DENDENGBentuk sanggul dendeng banyak dipengaruhi suku dayak islam yang pada masalalu merupakan sanggul sehari-hari para wanita yang umumnya berambut panjang, dan dikenakan oleh mereka yang berdarah bangsawan saja, tetapi padamasa sekarang sanggul dendeng hanya dikenakan oleh pengantin pada hari perkawinannya. Dendeng berarti terpampang, yang dibentuk dengan cara melipat.keadaan rambut yang panjang dan lebat dapat membuat sanggul melintang an panjang melewati batas tepi kiri dan kanan atas kepala. untuk mengharumkansanggul digunakan daun pandan yang wangi yang dibelah-belah memanjangdililitkan bersama rambut pada saat pembentukan sanggul. Dari bentuk danletaknya, sanggul dendeng dapat dipengaruhi oleh gelung malang dari Palembang.

Sanggul daerah dari Bangka Belitung

Sanggul daerah dari Lampung

Sanggul daerah dari Jambi

Sanggul Daerah Kepulauan Riau

Sanggul Daerah Pekanbaru

Sanggul Daerah Bengkulu

Sanggul Palembang

SANGGUL GELUNG MALANG Sanggul daerah Palembang, Sumatera Selatan disebut Gelung Malang.

Sejarah sanggul Gelung Malang Sejak dimulainya perluasan daerah jajahan Kerajaan Majapahit, dengan panglima perangnya yang terkenal Mahapatih Gajah Mada, antara lain ke daerah Sumatera pada kira-kira abad XIV, secara tidak langsung mengakibatkan adanya pengaruh seni atau kebudayaan Jawa terhadap kehidupan masyarakat. Kebudayaan yang ditinggalkan oleh laskar Kerajaan Majapahit ini tetap hidup sehingga seolah-olah kebudayaan itu adalah peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Pada tanggal 21 Juni 1821 adalah hari terjadinya acara serah terima Pemerintah Kerajaan Sriwijaya kepada Pemerintah
-Hindia Belanda. Juah sebelum itu Pemerintah Kerajaan Sriwijaya sudah mempunyai tata cara adat dan seni budaya tersendiri yang bernilai tinggi, termasuk di dalamnya tata busana, perawatan badan dan keluarganya. Jika berpergian ia hanya berhias secara sederhana, misalnya hanya mengenakan baju kurung biru tua, selain sarung dan selendang sebagai penutup kepala, serta perhiasan sekedarnya. Sanggul malang adalah sanggul wanita yang mencerminkan pengaruh kebudayaan Sriwijaya dan kebudayaan asing lainnya, antara lain dari Tiongkok dan India, yang sudah ada pada waktu itu. Sanggul malang berasal dari kebudayaan Jawa yang dibawa oleh laskar Majapahit. Hiasan sanggul ini terbuat dari kertas, seperti pada kebudayaan Cina dan untaian bunga hidup seperti pada kebudayaan India. Pada masa Kerajaan Sriwijaya, sanggul malang ini umumnya hanya dipakai oleh permaisuri, putri-putri keluarga raja, serta kaum bangsawan dari lingkungan istana. Orang awam tidak dapat begitu saja memakai tata rias rambut dengan sanggul malang. Seorang gadis yang baru melangsungkan akad nikah dan acara munggah, bersama mempelai pria, ia mendapat penghormatan atau penobatan menjadi sepasang warga negeri yang mempunyai tanggung jawab. Pada waktu acara munggah berlangsung, kedua mempelai diberi gelar, disamping namanya sendiri yang telah dimilikinya sejak kecil. Pada waktu itulah mempelai wanita diberi kehormatan memakai sanggul gelung malang. Jelaslah bahwa pada waktu itu gelung malang hanya dipakai pada acara tertentu atau acara resmi. Sanggul ini dinamakan gelung malang karena letaknya yang horizontal (malang) dan tinggi di atas puncak kepala. Jenis sanggul daerah Palembang Di samping gelung malang masih ada beberapa jenis sanggul yang terdapat di daerah Sumatera Selatan antara lain:

a) Sanggul/Gelung Tembako Setebek

Sanggul ini mirip dengan sanggul Jawa, tetapi bentuknya membulat, letaknya agak tinggi, dan di dalamnya diselipkan setebek (setumpuk/ selempeng) tembakau. Biasanya sanggul ini dipakai pada waktu acara putus rasan, yaitu acara penentuan hari jadi akad nikah. Dalam hal ini, pihak besan laki-laki mengeluarkan selipan tembakau dan dibagikan kepada keluarganya yang hadir (biasanya keluarga terdekat), lazimnya kaum ibu. Akan tetapi dengan majunya perkembangan zaman maka acara putus rasan pada saat ini sudah jarang ditemukan.

b) Sanggul/Gelung Cioda
-Sanggul ini biasanya digemari oleh gadis-gadis remaja maka kini. Sanggul ini terdiri dari dua buah dan diletakkan dibagian kiri dan kanan kepala. Kadang- kadang rambut dikepang dahulu, baru dibentuk sanggul pada bagian kanan dan kiri atau dikepang dahulu, baru dibentuk sanggul pada bagian kanan dan kiri atau dikumpulkan dibagian tengah kepala. Perlu ditambahkan bahwa asal-usul sanggul ini tidak diketahui secara jelas.
Aksesoris:
a. kembang goyang 5 buah
 b. tusuk cempako sebanyak 2 buah, bentuknya seperti binga cempaka diselipkan pada sisi kiri dan kanan sanggul
c. sisir berhias yang diletakkan di depan sanggul
d. hiasan tambahan yang terbuat dari bunga ketas berwarna merah/ merah muda yang diselipkan pada lubang sanggul.

Biasa juga digunakan bunga-bunga hidup alat dan bahan
a) sisir sasak
b) sisir penghalus
 c) jepit bebek besi
d) jepit hitam
e) harnal baja
 f) harnal halus
g) karet gelang
h) hair net
 i) hair spray
 j) cemara rambut 90-100 cm

Cara membentuk sanggul Gelung Malang

a. sisirkan seluruh rambut menuju puncak kepala, ikatkan dengan kuat
b. pasangkan cemara, satukan rambut asli dengan cemara. Pilin dengan kuat dan halus
c. bentuk sanggul menyerupai angka delapan. Dengan memulai lingkaran sebelah kiri terlebih dahulu d. pegang pangkai rambut, arahkan ujung rambut ke sebelah kanan, kemudian tarik rambut menuju sisi kiri lalu lanjutkan menuju atas pangkal rambut, sisa rambut diarahkan ke bawah mulai dari pangkal menuju atas kembali sehingga membentuk ikatan
e. rapikan rambut dengan harnal, jepit dan hair net, pasangkan aksesoris 

Sanggul Daerah Makasar

Sangul BUGIS
sumber : IG Hani Satriyo ( @hanisatriyo )

Sangul Bali



SANGGUL PUSUNG TAGEL

diambil dar i: IG  ( @karena.makeup )


SANGGUL PUSUNG TAGEL
SANGGUL PUSUNG TAGEL pusung tagel adalah sanggul yang dipakai oleh wanita yang telah bersuami. Pusung tagel bagian kiri disebut penyawat, sanggul yang berbentuk bulatan dinamakan batun pusungan yang terletak di seeblah kanan penyawat adalah tagelan.
Aksesoris:
a. sisir/ mahkota diletakkan di atas penyawat/ lungsen, yang berguna untuk mengikat sanggul
b. bunga cempaka satu tangkai diletakkan di atas mahkota
c. bunga kantil/ cempaka yang diletakkan pada bagian kanan dan kiri pusungan
d. bunga semanggi dipasangkan disebelah / disamping butun pusungan
e. kompyong (sekumpulan bunga hidup, dahlia, kamboja) yang dipasang pada sebelah kanan tagelan

alat dan bahan:
a) sisir sasak
b) sisir penghalus
c) jepit bebek besi
d) jepit hitam
e) harnal baja
 f) harnal halus
g) karet gelang
 h) hair net
 i) hair spray
 j) cemara rambut 90-100 cm

langkah kerja:
a. rambut dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian lungsen, bagian depan dan bagian belakang
 b. bagian depan disasak berbentuk sunggaran (seperti sanggul jawa) namun lebih kecil
c. bagian belakang rambut diikat kuat dengan karet, letaknya pas di tengah kepala bagian belakang (lima jari dari batas rambut) pasangkan cemara 100-120cm dengan kuat
d. pilin sedikit rambut cemara dengan rambut asli, kemudian bentuk lingkaran / batun pusungan dengan cara memutarkan rambut kekiri bawah dan naik ke kanan atas
e. ujung rambut sebelah kanan sebatas bahu ditekuk kembali ke atas dengan cara menempelkan tekukan itu disebelah kanan bagian kepala dan bentuknya lebih besar dari batun pusungan, inilah yang disebut tagelan. Sisakan rambut diselipkan pada pangkal sanggul
 f. kemudian tarik lungsen dan ikatkan pada tengah sanggul/ pangkal sanggul, jepit dengan kuat
 g. letakkan aksesoris pada tempatnya




Sanggul Batak










Sanggul dalam batak disebut : SIPORHOT


Jika seorang wanita Batak membiarkan rambutnya terurai atau tidakditata, ia akan menjadi buah mulut atau dianggap sebagai wanita pemalas.
Bentuk sanggul wanita Batak pada mulanya sama, yaitu berbentuk bulat menonjol dan diletakkan sedikit di atas tengkuk atau sedikit melewati pusar rambut.
Sanggul anak gadis biasanya terdiri dari 2 bulatan konde yang terletak di belakang telinga. Akan tetapi, karena keadaan serta situasi tiap sub suku, masyarakat Batak memiliki jenis sanggul yang khas, di samping sanggul bulat yang umum. Berikut ini akan diperkenalkan
sanggul-sanggul Batak, baik nama maupun cara penataannya.
Dalam salah satu peribahasa Batak disebutkan bahwa Soripada nabisuk do ina na boi mangaramoti busanana, yang artinya kira-kira ‘Tuan putri yang bijaksana adalah ibu yang dapat bertanggung jawab dalam keluarganya’. Ungkapan ini mendorong wanita Batak agar bertindak aktif,
dinamis, cepat, tepat dan bijaksana. Oleh karena itu, penampilan dalam berhias pun harus disesuaikan agar praktis, demikian pula dalam menatarambut.Adanya berbagai marga sesuai dengan daerah tinggalnya makaterdapat berbagai jenis sanggul batak.


a) Sanggul Batak Toba
Sanggul Batak toba disebut sanggul Timpus. x Pengertian sanggul timpus Seperti namanya, timpus ‘membungkus’, selain bertujuan merapikan rambut, sanggul ini berfungsi sebagai penyimpanan alat-alat yang sangat perlu, misalnya daun sirih. Daun sirih inilah yang menjadi hiasan rambut atau sanggul itu. Selain sirih berfungsi mengencangkan konde, juga dipakai berbagai ragam peniti. Bagi orang berada, alat pengencang konde itu dapat berupa peniti (tusuk konde) yang terbuat dari emas atau perak, sedangkan bagi orang yang kurang berada dapat mempergunakan tusuk konde yang terbuat dari tulang atau duri landak.
Cara menata rambut ini : cukup dengan membelahnya pada bagian tengah kepala sampai ke ubun-ubun. Dengan belahan tengah itu rambut mudah diatur dan letaknya tetap. Seluruh rambut disatukan pada bagian belakang kepala, kemudian diputar dengan rapi sampai ke ujung, lalu disatukan dan dimasukkan ke dalam rambut sebelah kanan sehingga berbentuk pusaran. Cara membentuk sanggul timpus ƒ Rambut dibelah lurus dari tengah kepala sepanjang 3-5 cm sehingga mudah diatur dan letaknya tetap.


Aksesoris :
a. gondang-gondang sebanyak satu buah / dua buah yang terbuat dari mas, perak, tulang/tamduk kerbau yang berguna untuk mengencangkan sanggul
 b. daun sirih sebanyak 3 lembar, diletakkan pada bagian atas sanggul
alat dan bahan
a) sisir sasak
b) sisir penghalus
 c) jepit bebek besi
d) jepit hitam
e) harnal baja
f) harnal halus
g) karet gelang
h) hair net
i) hair spray
j) cemara rambut 90-100 cm

cara membuat:
a) sisir rambut, belah rambut bagian depan menjadi dua bagian, kiri dan kana dimulai dari hair line bagian depan menuju puncak kepala
b) sisirlah bagian tersebut kemudian rapikan dengan hair spray.
c) Satukan dua bagian depan tersebut dengan bagian belakang, arahkan menuju sisi kepala bagian kanan tepat 2-3 jari di belakang telinga kanan
 d) Pegang pangkal rambut, kemudian putarkan rambut seperti pusaran, hingga kencang
 e) Pusaran tersebut lalu diputar ke bawah dan diselipkan dibawah rambut, hingga seluruhnya masuk di bawah rambut, hingga terbentuk tonjolan pada bagian atasnya
 f) Lipat tiga lembar daun sirih sedemikian rupa dan pasangkan di atas sanggul, pasangkan gondang-gondang sebagai penguat sanggul



sumber IG : @fatimahzhrra 
Sumber : IG : @fitrianesti_na
diambil dari IG : @jejemake.up

For bun messages totaling 8 pcs and above, the process of making the longest is 1 week, because the bun is made directly from the craftsmen.

Untuk pemesanan sanggul berjumlah 8 pcs keatas, proses pembuatan terlama adalah 1 minggu, karena sanggul dibuat langsung dari pengrajinnya.
Pesanlah sanggul dengan ukuran panjang dan lebar sesuai keinginan anda (tergantung jenis kepala anda), sehingga penampilan yang terbaik akan anda dapatkan.
Cek :